TRADISI
SEDEKAH RAME DALAM MANUSIA DAN HARAPAN
Disusun
Oleh :
M. Arif Budiman (17118817)
SISTEM
INFORMASI
FAKULTAS
ILMU KOMPUTER & TEKNOLOGI INFORMASI
TAHUN
AJARAN 2018/2019
KATA PENGANTAR
Segala puji syukur kita haturkan kepada Allah
SWT sebab karena limpahan rahmat serta anugerah dari-Nya kami mampu untuk
menyelesaikan makalah kami dengan judul “Tradisi Sedekah Rame Dalam Manusia Dan
Harapan” ini.
Shalawat serta salam tidak lupa selalu kita haturkan untuk
junjungan nabi agung kita, yaitu Nabi Muhammad SAW yang telah menyampaikan
petunjukan Allah SWT untuk kita semua, yang merupakan sebuah pentunjuk yang
paling benar yakni Syariah agama Islam yang sempurna dan merupakan satu-satunya
karunia paling besar bagi seluruh alam semesta. Kami meminta kritik dan saran
dari pembaca untuk makalah ini supaya selanjutnya dapat kami revisi kembali.
Karena kami sangat menyadari, bahwa makalah yang telah kami buat ini masih
memiliki banyak kekurangan.
Kami ucapkan terimakasih yang sebanyak-banyaknya
kepada setiap pihak yang telah mendukung serta membantu kami selama proses
penyelesaian makalah ini hingga rampungnya makalah ini.
Demikianlah yang dapat kami haturkan, kami berharap supaya makalah
yang telah kami buat ini mampu memberikan manfaat kepada setiap pembacanya.
DAFTAR ISI
Halaman Judul………………………………………………………………….…..................i
Kata Pengantar……………………………………………………………………..................ii
Daftar Isi……………………………………………………………………….….................iii
BAB I
PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang Masalah…………………………………….……..................1
1.2
Rumusan Masalah…………………………………………………................2
1.3
Tujuan Pembahasan………………………………………........…..................2
BAB II PEMBAHASAN
2.1 Kebudayaan Masyarakat Palembang…………………………...................…3
2.2 Contoh Kebudayaan Palembang……………………………....................…..5
2.3 Pengertian Sedekah Rame…………………………………..................…….6
2.4 Maksuddan Tujuan dari Sedekah Rame……………………..................……8
BAB III PENUTUP
3.1 Kesimpulan………………………………………………….................……9
3.2 Saran………………………………………………………….................…..9
DAFTAR PUSTAKA………………………………………………………................…..10
BAB I
PENDAHULUAN
Suatu bangsa dikenal dari budayanya. Karakter, sikap dan perilaku, serta cara berpikir masyarakat suatu bangsa tercermin dalam budaya yang dimilikinya. Budaya adalah suatu cara hidup yang berkembang dan dimiliki bersama oleh sekelompok orang dan diwariskan dari satu generasi ke generasi. Budaya terbentuk dari banyak unsur yang rumit, termasuk sistem agama, politik, adat istiadat, bahasa, perkakas, pakaian, bangunan, dan karya seni. Setiap bangsa di dunia, memiliki budaya dan cara hidup yang berbeda-beda. Perbedaan tersebut dipengaruhi oleh banyak faktor, di antaranya : faktor ras, faktor lingkungan geografis, faktor perkembangan teknologi, faktor hubungan antar bangsa, faktor religi, faktor prestige. Indonesia merupakan archipelago terbesar di dunia, dengan lebih dari 17.000 pulau tersebar dari barat sampai ke timur. Pulau-pulau tersebut memiliki luas yang beragam, sumber daya alam yang berbeda-beda, serta memiliki keindahan yang bervariasi antara satu pulau dengan pulau lainnya. Pulau-pulau tersebut dihuni oleh masyarakat Indonesia dengan beragam karakteristik dan keunikannya meskipun di antara pulau tersebut masih banyak yang tidak berpenghuni. Penduduk Indonesia yang menghuni pulau tersebut saat ini ada lebih dari 240 juta jiwa dengan latar belakang sosial, ekonomi, dan pendidikan yang berbeda-beda. Perbedaan inilah yang juga menjadi faktor utama keragaman budaya di Indonesia.
1.2 Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah
sebagai berikut :
1.2.1 Bagaimana kebudayaan masyarakat Palembang?
1.2.2 Apa contoh dari kebudayaan yang ada di Palembang?
1.2.3 Apa yang dimaksud dengan Sedekah Rame?
1.2.4 Apa maksud dan tujuan melakukan Sedekah Rame?
Tujuan disusunnya makalah ini antara lain:
1.3.1 Mahasiswa/i dapat mengetahui Bagaimana kebudayaan masyarakat Palembang .
1.3.2 Mahasiswa/i dapat mengetahui contoh dari kebudayaan yang ada di Palembang.
1.3.3 Mahasiswa/i dapat mengetahui pengertian Sedekah Rame .
1.2.5 Mahasiswa/i dapat mengetahui maksud dan tujuan melakukan Sedekah Rame.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Kebudayaan Masyarakat Palembang
Stratifikasi
sosial masyarakat Palembang sekarang merupakan sisa-sisa dari pengaruh
Kesultanan Palembang. Dalam masyarakat ini ada golongan bangsawan yang ditandai
oleh gelar yang mereka pakai, seperti Pangeran, Raden, Raden Ayu, Mas Agus dan
Mas Ayu. Keturunan bangsawan yang sudah bercampur sedikit dengan rakyat biasa
memakai gelar seperti Kiayi Mas, Kemas, Kiayi Bagus dan Kiagus untuk lelaki,
serta Nyimas atau Nyanyu untuk perempuan. Kelompok lain yang paling banyak
adalah golongan orang-orang biasa.
Masyarakat Palembang adalah salah satu suku Melayu yang terletak di wilayah Kota Palembang dan sekitarnya. Suku Palembang juga merupakan salah satu kelompok etnis terdekat dari Suku Komering. Suku Palembang di Palembang semakin lama semakin berkurang, tetapi di Tepian Sungai Musi masih banyak ditemukan suku Palembang. Suku Palembang bahasanya mirip dengan Bahasa Melayu Jambi dengan Suku Melayu Bengkulu yang kata-katanya berakhiran dengan kata o.
Suku Melayu Palembang umumnya bermata pencaharian Sebagai Petani. Suku Palembang juga tidak mendiami wilayah Kota Palembang saja, tetapi juga mendiami wilayah Kabupaten Ogan Ilir (Seperti Kecamatan Tanjung Raja, Kecamatan Pemulutan, dan Kecamatan Indralaya). Dan wlayah Kabupaten Ogan Komering Ilir (Seperti Kecamatan Kota Kayu Agung, dan Kecamatan Jejawi). Kebanyakan keturunan suku Palembang ini juga banyak menyebar di wilayah Bengkulu, dan Jambi. Suku Melayu Palembang banyak menganut Agama Islam, sisanya beragama Buddha. Tetapi masih ada juga yang beragama animisme, mereka juga hidup secara berdamping-dampingan dan damai.
Kalau bicara kota dengan pendapatan perkapita paling tinggi di Indonesia, maka semua akan tertuju pada kota Palembang. Kota Palembang merupakan salah satu kota di provinsi Sumatera Selatan sekaligus ibu kotanya. Lokasinya di tepi Sungai Musi.
Ada pendapat yang mengatakan bahwa pada awalnya suku Palembang adalah merupakan hasil dari asimilasi dari beberapa suku bangsa Arab, Cina dan Melayu, yang bermigrasi ke wilayah Palembang ini pada berabad-abad yang lalu dan hidup berdampingan sekian lama, dan terjadi perkawinan-campur selama berabad-abad. Dari ketiga suku bangsa ini lah lahir suatu etnik yang disebut suku Palembang yang memiliki budaya dan adat-istiadat tersendiri.
Tetapi beberapa dari masyarakat Palembang lainnya justru menolak hal tersebut, dan mengatakan bahwa suku Palembang adalah suatu komunitas adat tersendiri, dan sebagai penghuni pertama wilayah Palembang, jauh sebelum kehadiran bangsa Arab, Cina dan Melayu. Mungkin saja terjadi perkawinan-campur antara suku Palembang dengan beberapa suku bangsa pendatang tersebut, tetapi justru beberapa suku bangsa pendatang tersebut lah yang ikut masuk ke dalam budaya dan adat-istiadat suku Palembang.
Masyarakat Palembang adalah salah satu suku Melayu yang terletak di wilayah Kota Palembang dan sekitarnya. Suku Palembang juga merupakan salah satu kelompok etnis terdekat dari Suku Komering. Suku Palembang di Palembang semakin lama semakin berkurang, tetapi di Tepian Sungai Musi masih banyak ditemukan suku Palembang. Suku Palembang bahasanya mirip dengan Bahasa Melayu Jambi dengan Suku Melayu Bengkulu yang kata-katanya berakhiran dengan kata o.
Suku Melayu Palembang umumnya bermata pencaharian Sebagai Petani. Suku Palembang juga tidak mendiami wilayah Kota Palembang saja, tetapi juga mendiami wilayah Kabupaten Ogan Ilir (Seperti Kecamatan Tanjung Raja, Kecamatan Pemulutan, dan Kecamatan Indralaya). Dan wlayah Kabupaten Ogan Komering Ilir (Seperti Kecamatan Kota Kayu Agung, dan Kecamatan Jejawi). Kebanyakan keturunan suku Palembang ini juga banyak menyebar di wilayah Bengkulu, dan Jambi. Suku Melayu Palembang banyak menganut Agama Islam, sisanya beragama Buddha. Tetapi masih ada juga yang beragama animisme, mereka juga hidup secara berdamping-dampingan dan damai.
Kalau bicara kota dengan pendapatan perkapita paling tinggi di Indonesia, maka semua akan tertuju pada kota Palembang. Kota Palembang merupakan salah satu kota di provinsi Sumatera Selatan sekaligus ibu kotanya. Lokasinya di tepi Sungai Musi.
Ada pendapat yang mengatakan bahwa pada awalnya suku Palembang adalah merupakan hasil dari asimilasi dari beberapa suku bangsa Arab, Cina dan Melayu, yang bermigrasi ke wilayah Palembang ini pada berabad-abad yang lalu dan hidup berdampingan sekian lama, dan terjadi perkawinan-campur selama berabad-abad. Dari ketiga suku bangsa ini lah lahir suatu etnik yang disebut suku Palembang yang memiliki budaya dan adat-istiadat tersendiri.
Tetapi beberapa dari masyarakat Palembang lainnya justru menolak hal tersebut, dan mengatakan bahwa suku Palembang adalah suatu komunitas adat tersendiri, dan sebagai penghuni pertama wilayah Palembang, jauh sebelum kehadiran bangsa Arab, Cina dan Melayu. Mungkin saja terjadi perkawinan-campur antara suku Palembang dengan beberapa suku bangsa pendatang tersebut, tetapi justru beberapa suku bangsa pendatang tersebut lah yang ikut masuk ke dalam budaya dan adat-istiadat suku Palembang.
- Mata Pencaharian Masyarakat Palembang, Mata pencaharian mereka sekarang adalah sebagai pedagang, pengrajin besi dan emas, bertenun, menangkap ikan, membuat peralatan nelayan dan sedikit berkebun.
- Agama Masyarakat Palembang, masyarakat yang
sekarang menganut agama Islam dan mengembangkan pula kesenian-kesenian yang
tersentuh budaya Islam, seperti rodat saropal anam dan teater rakyat dulmuluk.
Sisa-sisa pengaruh kerajaan Sriwijaya yang erat hubungannya dengan kerajaan
Kediri di Jawa dulu terlihat dalam kesenian wayang palembang.
2.2 Contoh Kebudayaan Palembang
Provinsi
ini terletak jauh dari ibukota, Palembang dikenal sebagai kota multibudaya
sebab banyak para pendatang yang memasuki wilayah ini dan tak terlepas dari
sejarah tua Palembang itu sendiri. Kesenian-kesenian yang dimiliki oleh masyarakat
Melayu asli Palembang adalah sebagai berikut :
· Sedekah Rame, Sedekah Rame merupakan upacara adat Palembang yang dilakukan oleh masyarakat yang bekerja sebagai petani
·
Gending Sriwijaya, yaitu tarian yang
dimainkan untuk menyambut para tamu.
·
Syarofal Anam, yaitu kesenian Islami
yang diperkenalkan oleh para saudagar Arab. Kesenian Islami ini menjadi populer
di Kota Palembang karena diperkenalkan oleh KH. M. Akib, S. Abdullah bin Alwi
Jamalullail, dan Ki Kemas H. Umar
2.3 Pengertian Sedekah Rame
Salah satu budaya yang ingin saya bahas ialah Palembang, Provinsi
Sumatera Selatan, dimana ini adalah tanah lahir saya. Saya mengambil contoh
budaya Sedekah Rame yang masih menjadi tradisi di Kabupaten Maura, Desa
Semendo, Palembang, Sumatera Selatan. Sedekah Rame merupakan salah satu upacara
tradisional di daerah Sumatera Selatan. Kegiatan dalam upacara itu
diselenggarakan secara bersama-sama oleh masyarakat setempat, terutama bagi
para anggotanya yang memiliki lahan persawahan.
Nama upacara tersebut apabila diterjemahkan ke dalam bahasa
Indonesia umum sepadan dengan "Sedekah bersama-sama". Upacara ini
utamanya diselenggarakan oleh para petani dalam rangka kegiatan pertanian,
mulai dari penyiangan sawah, pembibitan, dan penanaman sampai panen. Upacara
ini dilakukan di daerah Sumatera Selatan yang bernama Tanah Badahe Setue yang
letaknya berada di tengah-tengah sawah dengan cara membakar menyan, membuat
ritual kepada roh, dan menyalahkan api unggun.
Tahap-tahap sebelum dan saat Upacara
Di dalam pelaksanaannya, upacara tersebut dilakukan atas beberapa tahap yakni sebagai berikut:
1) Tahap sebelum upacara
- Diadakannya pertemuan para pemuka masyarakat setempat dengan Jurai Tupe (roh) untuk meminta izin.
- Pertemuan para pemuka masyarakat dan para pemilik sawah untuk menentukan hari dan tanggal pelaksanaan upacara.
- Pertemuan antara Rie dan tua-tua kampung untuk menentukan pembagian tugas.
- Pengumpulan masyarakat pendukung dan dilanjutkan menuju lokasi
2) Tahap melaksanakan upacara:
- Dalam upacara ini yakni, meletakkan posisi perlengkapan upacara dan membakar kemenyan.
- Pemberian kesempatan untuk sambutan-sambutan.
- Penyampaian amanat dan alkisah Puyang pembuka pertama areal persawahan.
- Memanjatkan doa penutup.
- Terakhir, menyantap hidangan yang tersedia secara bersama-sama.
- Pengeringan air dan pembersihan saluran.
- Penangkapan ikan, uniknya bagian ini diadakan agar para pendukung upacara tradisional dapat bergembira dengan membawa oleh-oleh ikan untuk dibawa pulang, baik untuk dimakan bersama keluarga ataupun untuk dijual.
Maksud dan tujuan upacara
ini ialah agar masyarakat memperoleh perlindungan dari Tuhan Yang Maha Esa atas
tanaman yang mereka tanam. Upacara ini juga dilaksanakan dengan satu harapan
agar para petani memperoleh hasil panen yang lebih baik dan lebih banyak.
Upacara ini merupakan ucapara yang sangat terkenal dikalangan petani, secara
khusus di Sumatera Selatan.
Upacara ini sangat menarik. Meskipun memiiliki kemiripian dengan beberapa upacara di Jawa yang juga berkaitan dengan kegiatan pertanian, namun tentu saja upacara ini memiliki keunikan tersendiri karena dilakukan di daerah Sumatera Selatan yang tentu saja memiliki keyakinan dan tata cara berbeda dalam pelaksanaannya. Menunjukkan betapa masyarakat Sumatera Selatan, khususnya Suku Lahat, masih sangat menghormati budaya gotong royong dan kerukunan antarwarga. Selain itu, upacara ini juga menunjukkan betapa masyarakat Provinsi Sumatera Selatan masih mengandalkan Tuhan serta memiliki sikap selalu bersyukur dalam setiap aspek kegiatan pertanian yang dilakukannya.
Setelah menganalisis kebudayaan universal yang ada pada masyarakat Palembang, Sumatera Selatan di atas dapat disimpulkan bahwa kebudayaan khususnya pada makanan-makanan khasnya dan dari segi “Kesenian”-nya baik seni tari, rumah adat, upacara adat, dll. Kebudayaan atau unsur yang masih ada dari masyarakat Sumsel adalah dari segi upacara adat “Sedekah Rame”.
Upacara Sedekah Rame apabila diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia mengandung arti "Sedekah bersama-sama". Upacara ini dilakukan di kawasan Sumatera Selatan yang berjulukan Tanah Badahe Setue yang letaknya berada di tengah-tengah sawah dengan cara memperabukan menyan, menciptakan ritual kepada roh, dan menyalahkan api unggun. Pelepasan bahtera (jong) dalam upacara Sedekah Rame mengandung arti masyarakat sanggup terbebas dari segala mara bahaya.
3.2 Saran
Upacara ini sangat menarik. Meskipun memiiliki kemiripian dengan beberapa upacara di Jawa yang juga berkaitan dengan kegiatan pertanian, namun tentu saja upacara ini memiliki keunikan tersendiri karena dilakukan di daerah Sumatera Selatan yang tentu saja memiliki keyakinan dan tata cara berbeda dalam pelaksanaannya. Menunjukkan betapa masyarakat Sumatera Selatan, khususnya Suku Lahat, masih sangat menghormati budaya gotong royong dan kerukunan antarwarga. Selain itu, upacara ini juga menunjukkan betapa masyarakat Provinsi Sumatera Selatan masih mengandalkan Tuhan serta memiliki sikap selalu bersyukur dalam setiap aspek kegiatan pertanian yang dilakukannya.
BAB III
KESIMPULAN
Upacara Sedekah Rame apabila diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia mengandung arti "Sedekah bersama-sama". Upacara ini dilakukan di kawasan Sumatera Selatan yang berjulukan Tanah Badahe Setue yang letaknya berada di tengah-tengah sawah dengan cara memperabukan menyan, menciptakan ritual kepada roh, dan menyalahkan api unggun. Pelepasan bahtera (jong) dalam upacara Sedekah Rame mengandung arti masyarakat sanggup terbebas dari segala mara bahaya.
3.2 Saran
Sumatera Selatan dikenal
dengan kesenian dan kerajinannya, maka dari itu marilah bersama-sama kita
menjaga dan melestarikan kebudayaan yang ada walaupun zaman semakin hari
semakin maju.
DAFTAR PUSTAKA
DAFTAR PUSTAKA

