Pertumbuhan dan
Perkembangan Penduduk Indonesia
Dari hasil sensus penduduk tahun 1990 jumlah penduduk Indonesia adalah 179,4 juta. Berarti Indonesia termasuk negara terbesar ke tiga di antara negara-negara yang sedang berkembang setelah Gina dan India.Dibanding dengan jumlah sensus tahun 1980 maka akan terlihat peningkatan penduduk Indonesia rata-rata 1,98% pertahun. Berdasarkan hasil proyeksi penduduk, jumlah penduduk Indonesia pada tahun 1995 sebanyak 195,3 juta jiwa.
Bila dilihat dari luas wilayah pada peta penyebaran
penduduknya terlihat tidak merata di 27 propinsi. Berdasarkan hasil sensus
penduduk tahun 1990 sekitar 60% penduduk tinggal di pulau Jawa, padahal luas
pulau Jawa hanya 7% dari luas wilayah Indonesia. Dilain pihak pulau Kalimantan
yang luas wilayahnya hanya ditempati oleh 5% dari jumlah penduduknya.
Kondisi tersebut menunjukan bahwa kepadatan penduduk
Indonesia tidak seimbang. Kondisi tersebut memerlukan upaya pemerataan dan
upaya tersebut telah dilaksanakan melalui program transmigrasi dan gerakan
kembali ke Desa. Dilihat dari tingkat pertambahan penduduknya Indonesia masih
tergolong tinggi, hal ini bila tidak diupayakan pengendalianya akan menimbulkan
banyak masalah. Di Indonesia dari tingkat partisipasi anak usia sekolah baru
mencapai 53% meskipun wajib belajar pendidikan dasar 9 tahun telah dicanangkan
oleh pemerintah. Dibanding negara tetangga, tingkat partisipasi pendidikan kita
tergolong rendah. Hongkong misalnya tahun 1985 telah mencapai 95%, Korea
Selatan 88% dan Singapura telah mencapai 95 % (Surabaya Post, 2 Oktober 1995).
Masalah-masalah lain seperti ketenagakerjaan 77% angkatan kerja masih
berpendidikan rendah. Dampaknya terhadap pendapatan perkapita yang pada
gilirannya akan berpengaruh terhadap kualitas hidup. Juga terhadap kehidupan
rumah tangga seperti perceraian dan perkawinan yang akan berpengaruh terhadap
angka kelahiran dan kematian yang dalam banyak hal dijadikan indikator bagi
kesejahteraan suatu negara. Nampaknya sederhana, tetapi harus diingat bahwa
manusia adalah sebagai subjek tetapi juga sekaligus objek pembangunan sehingga
bila tidak diantisipasi mungkin pada gilirannnya akan berakibat ketidakstabilan
atau kerapuhan suatu negara.
Dilihat dari jumlah penduduknya Indonesia termasuk negara
terbesar ketiga diantara negara-negara sedang berkembang setelah Gina dan
India. Hasil pencacahan lengkap sensus penduduk 1990, penduduk Indonesia
berjumlah 179,4 juta jiwa. Berdasarkan hasil proyeksi penduduk, julah penduduk
pada tahun 1995 mencapai 195,3 juta jiwa. Kepadatan di 27 Propinsi masih belum
merata. Berdasarkan sensus penduduk tahun 1990 sekitar 60% penduduk tinggal di
Pulau Jawa, padahal luas Pulau Jawa hanya sekitar 7% dari seluruh wilayah
daratan Indonesia. Dilain pihak, Kalimantan yang memiliki 28% dari luas total,
hanya dihuni oleh 5% penduduk Indonesia. Dengan demikian kepadatan penduduk
secara regional juga sangat timpang, sementara kepadatan per kilometer persegi
di Pulau Jawa mencapai 814 orang, di Maluku dan Irian Jaya hanya 7 orang (BPS,
1994:29).
Permasalahan yang
timbul:
Ketidakseimbangan kepadatan penduduk ini mengakibatkan
ketidakmerataan pembangunan baik phisik maupun non phisik yang selanjutnya
mengakibatkan keinginan untuk pindah semakin tinggi. Arus perpindahan penduduk
biasanya bergerak dari daerah yang agak terkebelakang pembangunannya ke daerah
yang lebih maju, sehingga daerah yang sudah padat menjadi semakin padat.
Pemecahan Masalah:
Untuk memecahkan masalah ini dilaksanakan program pepindahan
penduduk dari daerah padat ke daerah kekurangan penduduk, yaitu program
transmigrasi.
Sasaran utama program transmigrasi semula adalah untuk
mengurangi kelebihan penduduk di Pulau Jawa. Tetapi ternyata jumlah penduduk
yang berhasil di transmigrasikan keluar Jawa sangat kecil jumlahnya. Pada tahun
1953 direncanakan 100.000 penduduk, tetapi hanya sebanyak 40.000 orang yang
berhasil dipindahkan (BPS 1994:90) Walaupun demikian, program transmigrasi
sudah menunjukan hasilnya dimana penduduk yang tinggal di Pulau Jawa turun dari
60% pada tahun 1990, diproyeksikan menjadi 57,7% pada tahun 2000. Sebaliknya
diluar Jawa diproyeksikan akan terjadi kenaikan tahun 1990-2000. Di Pulau
Sumatera naik dari 21% pada tahun 1990 menjadi 21,65 % pada tahun 2000 (BPS
1990:6-7).
Pertumbuhan Penduduk
dan Lingkungan Pemukiman
Pertumbuhan penduduk menurut Wikipedia adalah perubahan
populasi sewaktu-waktu yang dapat dihitung sebagai perubahan dalam jumlah
individu dalam sebuah populasi dalam satuan unit per waktu. Angka pertumbuhan
penduduk dipengaruhi banyak faktor seperti tingkat kelahiran, urbanisasi, dan
tingkat kematian. Semakin tinggi angka kelahiran dan urbanisasi di sebuah
wilayah akan meningkatkan angka pertumbuhan penduduk. Semakin tinggi angka
kematian suatu wilayah akan menurunkan tingkat pertumbuhan penduduk di wilayah
tersebut.
Perkembangan suatu kota yang semakin pesat dapat memacu juga
kepadatan suatu daerah. Hal ini disebabkan karena beragamnya kebutuhan hidup
masyarakat perkotaan dan adanya upaya untuk memberi kemudahan dalam memenuhi
kebutuhan manusia tersebut. Pertumbuhan penduduk yang semakin besar sebagai
akibat dari perkembangan pada aktivitas kota dan proses industrialisasi
terutama di beberapa kota di Indonesia yang mengakibatkan banyak berkembangnya
kawasan komersial. Berkembangnya suatu kota pasti akan diikuti oleh pertambahan
jumlah penduduk. Salah satu permasalahan yang muncul seiring dengan
perkembangan suatu kota adalah masalah perumahan dan pemukiman. Menurut
Bintarto (Pos Kota edisi Juni, 2012) pemukiman menempati areal paling luas
dalam pemanfaatan ruang, mengalami perkembangan yang selaras dengan
perkembangan penduduk dan mempunyai pola-pola tertentu yang menciptakan bentuk
dan struktur suatu kota yang berbeda dengan kota lainnya. Perkembangan
permukiman pada bagian-bagian kota tidaklah sama, tergantung pada karakteristik
kehidupan musyarakat, potensial sumber daya kesempatan kerja yang tersedia,
kondisi fisik alami serta fasilitas kota yang terutama berkaitan dengan
infrastruktur. Kemajuan dan perkembangan suatu kota tidak terlepas dari
pembentuk kota. Pembentuk tersebut meliputi sosial budaya, ekonomi, pemukiman,
kependudukan, sarana dan prasarana serta transportasi.
Jika adanya peningkatan jumlah penduduk akan menyebabkan
terjadinya peningkatan kegiatan sosial-ekonomi, juga peningkatan kebutuhan
pelayanan, dan akan terjadi peningkatan prasarana. Maka dengan semakin
banyaknya jumlah penduduk yang bertempat tinggal dalam suatu wilayah yang sama
dan melakukan kegiatan yang sama pula akan menimbulkan suatu masalah. Masalah
yang dapat terjadi antara lain peningkatan kebutuhan infrastruktur, pemukiman
liar, dan pencemaran lingkungan.
Infrastruktur merupakan syarat mutlak bagi terciptanya
lingkungan permukiman yang sehat, aman, harmonis dan berkelanjutan. Persoalan
infrastruktur tersebut timbul karena bertambahnya penduduk pemukiman,
peningkatan pendapatan, peningkatan pemilikan kendaraan dan dibangunnya
fasilitas di kawasan komersial di sekitar kota. Untuk menciptakan suatu
lingkungan pemukiman yang baik maka diperlukan infratruktur pemukiman dan
fasilitas umum pemukiman. Adapun yang dimaksud dengan infrastruktur pemukiman
ialah jalan lokal, saluran drainase, pengadaan air bersih, pembuangan air kotor,
persampahan, listrik dan telepon.
Pemukiman kumuh adalah masalah lain yang ditimbulkan akibat
pertumbuhan penduduk yang tidak diimbangi dengan peningkatan infrastruktur
dalam suatu wilayah. Peningkatan penduduk yang pesat memerlukan lahan untuk
memenuhi kebutuhan utamanya, yakni papan. Sayangnya, lahan perkotaan yang
sempit ditambah kurangnya fasilitas rumah susun serta kemampuan yang kurang
memadai dari para pendatang mengakibatkan munculnya pemukiman liar di beberapa
wilayah. Pemukiman yang berada di tempat yang tidak semestinya, seperti pinggir
sungai, akan berakibat pada pencemaran lingkungan. Limbah rumah tangga yang
dibuang ke sungai, lingkungan hidup yang tidak sehat, dan kurangnya
ketersediaan air bersih merupakan contoh masalah yang diakibatkan dari
pemukiman liar.
Usaha-usaha perencanaan infrastruktur yang harus dilakukan
sedini mungkin. Dalam hal ini penelitian akan diarahkan mencari hubungan antara
kepadatan pemukiman dengan ketersediaan infrastruktur dengan mengambil kasus di
kawasan pemukiman yang mewakili kepadatan rendah, sedang, dan tinggi. Apabila
hal ini tidak diperhatikan dan ditangani secara khusus maka akan mengakibatkan
tingkat pelayanan menjadi rendah dan menimbulkan ketidaknyamanan.
Pertumbuhan Penduduk
dan Tingkat Pendidikan
Pertumbuhan penduduk
Pertumbuhan penduduk
adalah perubahan jumlah penduduk di suatu wilayah tertentu pada waktu tertentu
dibandingkan waktu sebelumnya. Misalnya, pertumbuhan penduduk Indonesia dari
tahun 2010 ke tahun 2015 adalah perubahan jumlah penduduk Indonesia dari tahun
2010 sampai 2015. Pertumbuhan penduduk terbagi atas 2 sebagai berikut:
Pertumbuhan Penduduk Alami
Pertumbuhan penduduk alami adalah selisih antara jumlah
kelahiran dengan jumlah kematian. Rumus untuk menghitung pertumbuhan penduduk
alami adalah:
Keterangan:
L=jumlahkelahiran
M = jumlah kematian
L=jumlahkelahiran
M = jumlah kematian
Pertumbuhan Penduduk Total
Berbeda dengan pertumbuhan penduduk alami, pertumbuhan
penduduk total memperhitungkan migrasi (imigrasi dan emigrasi) dengan rumus :
Keterangan;
L = jumlah kelahiran
M = jumlah kematian
I = jumlah imigrasi
E = jumlah emigrasi
L = jumlah kelahiran
M = jumlah kematian
I = jumlah imigrasi
E = jumlah emigrasi
Pertumbuhan penduduk digolongkan dalam kategori tinggi, sedang, dan rendah. Pertumbuhan penduduk tinggi jika lebih dari 2%, sedang jika 1% – 2%, dan rendah jika kurang dari 1%.
Tingkat Pendidikan
di Indonesia
Menurut tingkat pendidikannya, penduduk dapat
dikelompokkan menjadi penduduk yang buta huruf dan yang melek huruf. Penduduk
yang melek huruf dapat dikelompokkan lagi menurut tingkat pendidikannya,
seperti kelompok tidak sekolah, tidak tamat Sekolah Dasar, tamat Sekolah Dasar,
tamat Sekolah Menengah Pertama, tamat Sekolah Menengah Atas, tamat
Akademi/Perguruan Tinggi, dan lain-lain.
Tingkat pendidikan berkaitan erat dengan penguasaan
ilmu pengetahuan dan teknologi. Di samping itu penguasaan ilmu pengetahuan dan
teknologi memudahkan penduduk dalam memenuhi berbagai kebutuhan hidup, sehingga
taraf hidupnya selalu meningkat. Sebaliknya, tingkat pendidikan yang rendah
dapat menyebabkan lambannya kenaikan taraf hidup dan akibatnya kemajuan menjadi
terhambat.
Tingkat pendidikan di Indonesia masih tergolong rendah
jika dibandingkan dengan negara-negara di dunia lainnya. Beberapa hal yang
menyebabkan rendahnya tingkat pendidikan di Indonesia adalah sebagai berikut.
Masih kurangnya kesadaran masyarakat akan pentingnya
pendidikan. Sebagian penduduk masih menganggap bahwa sekolah itu tidak penting.
Pendapatan penduduk yang rendah menyebabkan anak tidak dapat
melanjutkan sekolah karena tidak mempunyai biaya.
Kurang dan tidak meratanya sarana pendidikan. Sarana
pendidikan yang dimaksud, misalnya gedung sekolah, ruang kelas, buku-buku
pelajaran, alat-alat praktikum, guru yang berkualitas, dan lain-lain.
Tingkat Pendidikan Dasar
Pendidikan dasar diselenggarakan untuk memberikan bekal
dasar yang diperlukan untuk hidup dalam masyarakat berupa pengembangan sikap,
pengetahuan, dan keterampilan menengah. Oleh karena itu pendidikan dasar
menyediakan kesempatan bagi seluruh warga negara untuk memperoleh pendidikan yang
bersifat dasar yang berbentuk Sekolah Dasar (SD) atau bentuk lain yang
sederajat serta Sekolah Menengah Pertama (SMP) atau bentuk lain yang sederajat.
UU RI No. 20 Tahun 2003 menyatakan dasar dan wajib belajar pada Pasal 6 Ayat 1
bahwa, “Setiap warga negara yang berusia 7 sampai dengan 15 tahun wajib
mengikuti pendidikan dasar.
Tingkat Pendidikan Menengah
Pendidikan menengah yang lamanya tiga tahun sesudah
pendidikan dasar, di selenggarakan di SLTA (Sekolah Lanjutan Tingkat Atas) atau
satuan pendidikan yang sederajat. Pendidikan menengah dalam hubungan ke bawah
berfungsi sebagai lanjutan dan perluasan pendidikan dasar, dalam hubungan ke
atas mempersiapkan peserta didik untuk mengikuti pendidikan tinggi ataupun
memasuki lapangan kerja.
Pendidikan menengah terdiri atas pendidikan menengah umum,
pendidikan menengah kejuruan, dan pendidikan menengah luar biasa, pendidikan
menengah kedinasan dan pendidikan menengah keagamaan (UU No. 20 Tahun 2003 Bab
VI Pasal 18 Ayat 1-3)
Tingkat Pendidikan Tinggi
Pendidikan tinggi merupakan kelanjutan pendidikan menengah,
yang diselenggarakan untuk menyiapkan peserta didik untuk menjadi anggota
masyarakat yang memiliki kemampuan akademik dan/atau profesional yang yang
dapat menerapkan, mengembangkan dan/atau menciptakan ilmu pengetahuan,
teknologi dan/atau kesenian.
Untuk dapat mencapai
tujuan tersebut lembaga pendidikan tinggi melaksanakan misi “Tridharma”
pendidikan tinggi yang meliputi pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada
masyarakat dalam ruang lingkup tanah air Indonesia sebagai kesatuan wilayah
pendidikan nasional.
Pendidikan tinggi juga berfungsi sebagai jembatan antara pengembangan bangsa dan kebudayaan nasional dengan perkembangan internasional. Untuk itu dengan tujuan kepentingan nasional, pendidikan tinggi secara terbuka dan selektif mengikuti perkembangan kebudayaan yang terjadi di luar Indonesia untuk di ambil manfaatnya bagi pengembangan bangsa dan kebudayaan nasional. Untuk dapat mencapai dan kebebasan akademik, melaksanakan misinya, pada lembaga pendidikan tinggi berlaku kebebasan mimbar akademik serta otonomi keilmuan dan otonomi dalam pengolaan lembaganya. Satuan pendidikan yang menyelenggarakan pendidikan tinggi di sebut perguruan tinggi yang dapat berbentuk akademi, politeknik, sekolah tinggi, institut, dan universitas.
Pendidikan tinggi juga berfungsi sebagai jembatan antara pengembangan bangsa dan kebudayaan nasional dengan perkembangan internasional. Untuk itu dengan tujuan kepentingan nasional, pendidikan tinggi secara terbuka dan selektif mengikuti perkembangan kebudayaan yang terjadi di luar Indonesia untuk di ambil manfaatnya bagi pengembangan bangsa dan kebudayaan nasional. Untuk dapat mencapai dan kebebasan akademik, melaksanakan misinya, pada lembaga pendidikan tinggi berlaku kebebasan mimbar akademik serta otonomi keilmuan dan otonomi dalam pengolaan lembaganya. Satuan pendidikan yang menyelenggarakan pendidikan tinggi di sebut perguruan tinggi yang dapat berbentuk akademi, politeknik, sekolah tinggi, institut, dan universitas.
Dampak pertumbuhan
penduduk terhadap kualitas pendidikan di Indonesia
Suatu wilayah dengan pertambahan penduduk yang pesat
dapat menyebabkan masalah- masalah pendidikan, pengangguran, kesenjangan sosial
dan masalah-masalah lainnya. Dengan jumlah penduduk yang besar maka fasilitas-
fasilitas sosial, pendidikan dan pekerjaan juga ikut meningkat. Jika penduduk
di suatu kota yang padat tidak terpenuhi fasilitas pendidikannya maka akan
menyebabkan penurunan tingkat pendidikan wilayah tersebut. Tingkat pendidikan
yang rendah dapat menyebabkan pengangguran sehingga dampak pada tingkat
perekonomian juga memburuk. Jika masalah ini terus diabaikan maka kemerosotan
negara tidak dapat dihindari.
Tingkat pendidikan yang buruk dapat menyebabkan
anak-anak mengalami depresi. Hal ini memicu terjadinya pekerjaan-pekerjaan yang
tidak layak dilakukan oleh anak-anak di bawah umur. Bahkan dampak lain dari
masalah ini bisa menyebabkan tingkat tindakan kriminal yang dilakukan anak-anak
meningkat. Generasi muda dan anak-anak yang cerdas adalah kunci kemajuan suatu
negara. Jika masa kanak-kanak mereka diisi dengan hal-hal negatif maka jalan
menuju kesuksesan bangsa akan semakin jauh.
Penduduk merupakan pelaku pembangunan. Maka kualitas penduduk yang tinggi akan lebih menunjang laju pembangunan ekonomi. Usaha yang dapat dilakukan adalah meningkatkan kualitas penduduk melalui fasilitas pendidikan, perluasan lapangan pekerjaan dan penundaan usia kawin pertama. Di negara-negara yang anggaran pendidikannya paling rendah, biasanya menunjukkan angka kelahiran yang tinggi. Tidak hanya persediaan dana yang kurang, tetapi komposisi usia secara piramida pada penduduk yang berkembang dengan cepat juga berakibat bahwa rasio antara guru yang terlatih dan jumlah anak usia sekolah akan terus berkurang.
Penduduk merupakan pelaku pembangunan. Maka kualitas penduduk yang tinggi akan lebih menunjang laju pembangunan ekonomi. Usaha yang dapat dilakukan adalah meningkatkan kualitas penduduk melalui fasilitas pendidikan, perluasan lapangan pekerjaan dan penundaan usia kawin pertama. Di negara-negara yang anggaran pendidikannya paling rendah, biasanya menunjukkan angka kelahiran yang tinggi. Tidak hanya persediaan dana yang kurang, tetapi komposisi usia secara piramida pada penduduk yang berkembang dengan cepat juga berakibat bahwa rasio antara guru yang terlatih dan jumlah anak usia sekolah akan terus berkurang.
Negara Indonesia merupakan negara yang sedang
berkembang sehingga untuk melaksanakan pembangunan dalam segala bidang belum
dapat berjalan dengan cepat, karena kekurangan modal maupun tenaga tenaga ahli/
terdidik, Akibatnya fasilitas secara kualitatif dalam bidang pendidikan masih
terbatas. Pertambahan penduduk yang cepat, lepas daripada pengaruhnya terhadap
kualitas dan kuantitas pendidikan, cenderung untuk menghambat perimbangan
pendidikan. Kekurangan fasilitas pendidikan menghambat program persamaan atau
perimbangan antara pedesaan dan kota, dan antara bagian masyarakat yang kaya
dan miskin. Oleh karena itu, masyarakat dalam mencapai pendidikan yang tinggi
masih sedikit sekali.
Hal ini disebabkan karena :
Hal ini disebabkan karena :
Tingkat kesadaran masyarakat untuk bersekolah rendah.
Besarnya anak usia sekolah yang tidak seimbang dengan
penyediaan sarana pendidikan.
Pendapatan perkapita penduduk di Indonesia rendah sehingga
belum dapat memenuhi Kebutuhan hidup primer, dan untuk biaya sekolah.
Dampak yang ditimbulkan
dari rendahnya tingkat pendidikan terhadap pembangunan adalah:
Rendahnya penguasaan teknologi maju, sehingga harus
mendatangkan tenaga ahli dari negara maju. Keadaan ini sungguh ironis, di mana
keadaan jumlah penduduk Indonesia besar, tetapi tidak mampu mencukupi kebutuhan
tenaga ahli yang sangat diperlukan dalam pembangunan.
Rendahnya tingkat pendidikan mengakibatkan sulitnya
masyarakat menerima hal-hal yang baru. Hal ini nampak dengan ketidak mampuan
masyarakat merawat hasil pembangunan secara benar, sehingga banyak fasilitas
umum yang rusak karena ketidakmampuan masyarakat memperlakukan secara tepat.
Kenyataan seperti ini apabila terus dibiarkan akan menghambat jalannya
pembangunan.
Pengaruh daripada dinamika penduduk terhadap pendidikan juga
dirasakan pada keluarga. Penelitian yang dilakukan pada beberapa negara dengan
latar belakang budaya yang berlainan menunjukkan bahwa jika digabungkan dengan
kemiskinan, keluarga dengan jumlah anak banyak dan jarak kehamilan yang dekat,
menghambat perkembangan berfikir anak-anak, berbicara dan kemauannya, di samping
kesehatan dan perkembangan fisiknya. Kesulitan orang tua dalam membiayai
anak-anak yang banyak, lebih mempersulit masalah ini.
Aneka permasalahan penduduk pasti mempengaruhi
pelaksanaan pendidikan formal, non formal, dan informal. Makin pesat berjalan
perubahan sosial baik menyangkut reproduksi manusia, mobilitas, fluktuasi
ekonomi, tekanan struktur sosial dan kerumitan akulturasi.
Suatu ukuran pokok bagi fasilitas pendidikan adalah
school attendence yaitu perbandingan jumlah anak menurut golongan usianya yang
seharusnya bersekolah, dengan jumlah benar-benar sudah masuk sekolah. Menurut
hasil sensus 2010 angka partisipasi sekolah sebagai berikut: usia 7-12 tahun
(98,02%), usia 13-15 tahun (86,24%), usia 16-18 tahun (56,01%), usia 19-24
tahun (13,77%). Semakin pesat pertumbuhan masyarakat semakin besar pula
tuntutan akan fasilitas dan kesempatan pendidikan.
Usaha-usaha
pemerintah dalam meningkatkan kualitas pendidikan
Usaha-usaha tersebut di antaranya:
Usaha-usaha tersebut di antaranya:
Pencanangan wajib belajar 9 tahun.
Mengadakan proyek belajar jarak jauh seperti SMP Terbuka dan
Universitas Terbuka.
Meningkatkan sarana dan prasarana pendidikan (gedung
sekolah, perpustakaan, laboratorium, dan lain-lain).
Meningkatkan mutu guru melalui penataran-penataran.
Menyempurnakan kurikulum sesuai perkembangan zaman.
Mencanangkan gerakan orang tua asuh.
Memberikan beasiswa bagi siswa yang berprestasi.
Pertumbuhan Penduduk
dan Penyakit yang Berkaitan dengan Lingkungan Hidup
Pertumbuhan penduduk adalah perubahan jumlah penduduk baik
pertambahan maupun penurunannya. Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi
pertumbuhan penduduk adalah kelahiran, kematian, dan perpindahan penduduk.
Kelahiran dan kematian dinamakan faktor alami sedangkan perpindahan penduduk
adalah faktor non alami.
Migrasi ada dua yaitu migrasi masuk yang artinya menambah jumlah penduduk sedangkan migrasi keluar adalah mengurangi jumlah penduduk. Migrasi itu biasa terjadi karena pada tempat orang itu tinggal kurang ada fasilitas yang memadai. Selain itu juga kebanyakan kurangnya lapangan kerja. Maka dari itu banyaklah orang yang melakukan migrasi, dalam masalah ini maka penduduk tidak akan jauh dengan masalah kesehatan atau penyakit yang melanda penduduk tersebut, dikarenakan lingkungan yang kurang terawat ataupun pemukiman yang kumuh, seperti limbah pabrik, selokan yang tidak terawat yang menyebabkan segala penyakit akan melanda para penghuni wilayah tersebut yang mengakibatkan kematian dan terjadi pengurangan jumlah penduduk.
Migrasi ada dua yaitu migrasi masuk yang artinya menambah jumlah penduduk sedangkan migrasi keluar adalah mengurangi jumlah penduduk. Migrasi itu biasa terjadi karena pada tempat orang itu tinggal kurang ada fasilitas yang memadai. Selain itu juga kebanyakan kurangnya lapangan kerja. Maka dari itu banyaklah orang yang melakukan migrasi, dalam masalah ini maka penduduk tidak akan jauh dengan masalah kesehatan atau penyakit yang melanda penduduk tersebut, dikarenakan lingkungan yang kurang terawat ataupun pemukiman yang kumuh, seperti limbah pabrik, selokan yang tidak terawat yang menyebabkan segala penyakit akan melanda para penghuni wilayah tersebut yang mengakibatkan kematian dan terjadi pengurangan jumlah penduduk.
Pembahasan
Meningkatnya perhatian masyarakat mulai menyadari
akibat-akibat yang ditimbulkan dan kerusakan lingkungan hidup di Surabaya.
Sebagai contoh apabila ada penumpukan sampah di kota maka permasalahan ini
diselesaikan dengan cara mengangkut dan membuangnya ke lembah yang jauh dari
pusat kota, maka hal ini tidak memecahkan permasalahan melainkan menimbulkan
permasalahan seperti pencemaran air tanah, udara, bertambahnya jumlah lalat,
tikus dan bau yang merusak, pemandangan yang tidak mengenakan. Akibatnya
menderita interaksi antara lingkungan dan manusia yang akhirnya menderita
kesehatan.
Interaksi manusia dengan lingkungan hidupnya merupakan suatu proses yang wajar dan terlaksana sejak manusia itu dilahirkan sampai akhir hidupnya. Hal ini membutuhkan daya dukung lingkungan untuk kelangsungan hidupnya. Masalah lingkungan hidup sebenatnya sudah ada sejak dahulu, masalah lingkungan hidup bukanlah masalah yang hanya dimiliki atau dihadapi oleh negara-negara maju ataupun negara-negara miskin, tapi masalah lingkungan hidup adalah sudah merupakan masalah dunia dan masalah kita semua.
Keadaan ini ternyata menyebabkan kita betpikir bahwa pengetahuan tentang hubungan antara jenis lingkungan ini sangat penting agar dapat menanggulangi permasalahan lingkungan secara terpadu dan tuntas. Masalah lingkungan hidup merupakan kenyataan yang harus dihadapi, kegiatan pembangunan terutama di bidang industri yang banyak menimbulkan dampak negatif merugikan masyarakat.
Masalah lingkungan hidup adalah merupakan masalah yang komplek dan harus diselesaikan dengan berbagai pendekatan multidisipliner. Industrialisasi merupakan conditio sine quanon keberhasilan pembangunan untuk memacu laju pertumbuhan ekonomi, akan tetapi industrialisasi juga mengandung resiko lingkungan. Oleh karena itu munculnya aktivitas industri disuatu kawasan mengundang kritik dan sorotan masyarakat, yang dipermasalahkan adalah dampak negatif limbahnya yang diantisipasikan mengganggu kesehatan lingkungan.
Interaksi manusia dengan lingkungan hidupnya merupakan suatu proses yang wajar dan terlaksana sejak manusia itu dilahirkan sampai akhir hidupnya. Hal ini membutuhkan daya dukung lingkungan untuk kelangsungan hidupnya. Masalah lingkungan hidup sebenatnya sudah ada sejak dahulu, masalah lingkungan hidup bukanlah masalah yang hanya dimiliki atau dihadapi oleh negara-negara maju ataupun negara-negara miskin, tapi masalah lingkungan hidup adalah sudah merupakan masalah dunia dan masalah kita semua.
Keadaan ini ternyata menyebabkan kita betpikir bahwa pengetahuan tentang hubungan antara jenis lingkungan ini sangat penting agar dapat menanggulangi permasalahan lingkungan secara terpadu dan tuntas. Masalah lingkungan hidup merupakan kenyataan yang harus dihadapi, kegiatan pembangunan terutama di bidang industri yang banyak menimbulkan dampak negatif merugikan masyarakat.
Masalah lingkungan hidup adalah merupakan masalah yang komplek dan harus diselesaikan dengan berbagai pendekatan multidisipliner. Industrialisasi merupakan conditio sine quanon keberhasilan pembangunan untuk memacu laju pertumbuhan ekonomi, akan tetapi industrialisasi juga mengandung resiko lingkungan. Oleh karena itu munculnya aktivitas industri disuatu kawasan mengundang kritik dan sorotan masyarakat, yang dipermasalahkan adalah dampak negatif limbahnya yang diantisipasikan mengganggu kesehatan lingkungan.
Lingkungan dan Kesehatan
Kemampuan manusia untuk mengubah atau memoditifikasi
kualitas lingkungannya tergantung sekali pada taraf sosial budayanya.
Masyarakat yang masih primitif hanya mampu membuka hutan secukupnya untuk
memberi perlindungan pada masyarakat. Sebaliknya, masyarakat yang sudah
maju sosial budayanya dapat mengubah lingkungan hidup sampai taraf yang
irreversible. Perilaku masyarakat ini menentukan gaya hidup tersendiri yang
akan menciptakan lingkungan yang sesuai dengan yang diinginkannya mengakibatkan
timbulnya penyakit yang juga sesuai dengan prilakunya tadi, dengan demikian
eratlah hubungan antara kesehatan dengan sumber daya sosial ekonomi.
WHO menyatakan “Kesehatan adalah suatu keadaan sehat yang utuh secara fisik, mental dan sosial serta bukan hanya merupakan bebas dari penyakit”, dalam Undang Undang No. 9 Tahun 1960 tentang Pokok-Pokok Kesehatan. Dalam Bab 1, Pasal 2 dinyatakan bahwa “Kesehatan adalah meliputi kesehatan badan (somatik), rohani (jiwa) dan sosial dan bukan hanya deadaan yang bebas dari penyakit, cacat dan kelemahan”.Definisi ini memberi arti yang sangat luas pada kata kesehatan.
Masyarakat adalah terdiri dari individu-individu manusia yang merupakan makhluk biologis dan makhluk sosial didalam suatu lingkungan hidup (biosfir). Sehingga untuk memahami masyarakat perlu mempelajari kehidupan biologis bentuk interaksi sosial dan lingkungan hidup,dengan demikian permasalahan kesehatan masyarakat merupakan hal yang kompleks dan usaha pemecahan masalah kesehatan masyarakat merupakan upaya menghilangkan penyebab-penyebab secara rasional.
Sistematis dan berkelanjutan, pada pelaksanan analisis dampak lingkungan maka kaitan antara lingkungan dengan kesehatan dapat dikaji secara terpadu artinya bagaimana pertimbangan kesehatan masyarakat dapat dipadukan kedalam analisis lingkungan untuk kebijakan dalam pelaksnaan pembangunan yang berwawasan lingkungan.
Manusia berinteraksi dengan lingkungan hidupnya lebih baik, walaupun aktivitas manusia membuat rona lingkungan menjadi rusak. Hal ini tidak dapat disangkal lagi kualitas lingkungan pasti mempengaruhi status kesehatan masyarakat. Dari studi tentang kesehatan lingkungan tersirat informasi bahwa status kesehatan seseorang dipengaruhi oleh faktor hereditas, nutrisi, pelayanan kesehatan, perilaku dan lengkungan.
Menurut paragdima Belum tentang kesehatan dari lima faktor itu lingkungan mempunyai pengaruh dominan. Faktor lingkungan yang mempengaruhi status kesehatan seseorang itu dapat berasal dari lingkungan pemukiman, lingkungan sosial, linkungan rekreasi, lingkungan kerja. Keadaan kesehatan lingkungan di Indonesia masih merupakan hal yang perlu mendapaat perhatian, karena menyebabkan status kesehatan masyarakat berubah
seperti: Peledakan penduduk, penyediaan air bersih, pengolalaan sampah, pembuangan air limbah penggunaan pestisida, masalah gizi, masalah pemukiman, pelayanan kesehatan, ketersediaan obat, populasi udara, abrasi pantai, penggundulan hutan dan banyak lagi permasalahan yang dapat menimbulkan satu model penyakit.
Jumlah penduduk yang sangat besar 19.000 juta harus benar-benar ditangani. Masalah pemukiman sangat penting diperhatikan. Pada saat ini pembangunan di sektor perumahan sangat berkembang, karena kebutuhan yang utama bagi masyarakat. Perumahan juga harus memenuhi syarat bagi kesehatan baik ditinjau dari segi bangungan, drainase, pengadaan air bersih, pengolalaan sampah domestik uang dapat menimbulkan penyakit infeksi dan ventilasi untuk pembangunan asap dapur.
Perilaku pola makanan juga mengubah pola penyakit yang timbul dimasyarakat. Gizi masyarakat yang sering menjadi topik pembicaraan kita kekurangan karbohidrat, kekurangan protein, kekurangan vitamin A dan kekurangan Iodium. Di Indonesia sebagian besar penyakit yang didapat berhubungan dengan kekurangan gizi.
Dimusim penghujan ini sangat rawan tingkat kekebalan manusia oleh karena itu kita harus jaga kondisi kesehatan kita agar tidak terserang penyakit. penyakit seperti batu, pilek, diare/disentri, muntaber bahkan demam berdarah (DBD) sering kita jumpai di saat musim penghujan ini. tercatat sekitar awal tahun 2008-2009 banyak warga cikarang yang terserang demam berdarah (DBD) sekitar 11 orang tewas dengan penyakit tersebut, bahkan yang sering terjadi adalah wabah diare, itu karena kita kurang memperhatikan kondisi kekebalan tubuh kita.
kondisi yang lemahlah yang membuat kita terserang penyakit atau lingkungan yang tidak nyaman menyebabkan virus dan bakteri negative dapat berkembang di daerah yang lingkungannya tidak bersih. daerah daerah yang kurang bersih atau tidak sehat sangat berpotensi berkembangnya bibit penyakit, di cikarang masih banyak daerah daerah yang kurang bersih atau terawat, seperti di daerah pinggiran kali malang banyak orang yang membuang sampah di bantaran sungai kali malang tersebut, karena dapat menghambat aliran sungai yang masuk dan berpotensial menyebabkan banjir dan menjadi sarang nyamuk serta wabah disentri.
selain itu di desa sukaresmi banyak sampah sampah yang tidak di benahi, itu menyebabkan timbulnya bibit bibit penyakit baru, perlu kita perhatikan kesehatan dan kebersihan tempat tinggal kita agar tidak terserang penyakit tersebut apalagi di musim penghujan ini Pengaruh air terhadap kesehatan dapat menyebabkan penyakit menular dan tidak menular.
Perkembangan epidemiologi menggambarkan secara spesifik peran lingkungan dalam terjadinya penyakit dan wabah. Lingkungan berpengaruh pada terjadinya penyakit penyakit umpama penyakit malaria karena udara jelek dan tinggal disekitar rawa-rawa. Orang beranggapan bahwa penyakit malaria terjadi karena tinggal pada rawa-rawa padahal nyamuk yang bersarang di rawa menyebabkan penyakit malaria. Dipandang dari segi lingkungan kesehatan, penyakit terjadi karena interaksi antara manusia dan lingkungan.
WHO menyatakan “Kesehatan adalah suatu keadaan sehat yang utuh secara fisik, mental dan sosial serta bukan hanya merupakan bebas dari penyakit”, dalam Undang Undang No. 9 Tahun 1960 tentang Pokok-Pokok Kesehatan. Dalam Bab 1, Pasal 2 dinyatakan bahwa “Kesehatan adalah meliputi kesehatan badan (somatik), rohani (jiwa) dan sosial dan bukan hanya deadaan yang bebas dari penyakit, cacat dan kelemahan”.Definisi ini memberi arti yang sangat luas pada kata kesehatan.
Masyarakat adalah terdiri dari individu-individu manusia yang merupakan makhluk biologis dan makhluk sosial didalam suatu lingkungan hidup (biosfir). Sehingga untuk memahami masyarakat perlu mempelajari kehidupan biologis bentuk interaksi sosial dan lingkungan hidup,dengan demikian permasalahan kesehatan masyarakat merupakan hal yang kompleks dan usaha pemecahan masalah kesehatan masyarakat merupakan upaya menghilangkan penyebab-penyebab secara rasional.
Sistematis dan berkelanjutan, pada pelaksanan analisis dampak lingkungan maka kaitan antara lingkungan dengan kesehatan dapat dikaji secara terpadu artinya bagaimana pertimbangan kesehatan masyarakat dapat dipadukan kedalam analisis lingkungan untuk kebijakan dalam pelaksnaan pembangunan yang berwawasan lingkungan.
Manusia berinteraksi dengan lingkungan hidupnya lebih baik, walaupun aktivitas manusia membuat rona lingkungan menjadi rusak. Hal ini tidak dapat disangkal lagi kualitas lingkungan pasti mempengaruhi status kesehatan masyarakat. Dari studi tentang kesehatan lingkungan tersirat informasi bahwa status kesehatan seseorang dipengaruhi oleh faktor hereditas, nutrisi, pelayanan kesehatan, perilaku dan lengkungan.
Menurut paragdima Belum tentang kesehatan dari lima faktor itu lingkungan mempunyai pengaruh dominan. Faktor lingkungan yang mempengaruhi status kesehatan seseorang itu dapat berasal dari lingkungan pemukiman, lingkungan sosial, linkungan rekreasi, lingkungan kerja. Keadaan kesehatan lingkungan di Indonesia masih merupakan hal yang perlu mendapaat perhatian, karena menyebabkan status kesehatan masyarakat berubah
seperti: Peledakan penduduk, penyediaan air bersih, pengolalaan sampah, pembuangan air limbah penggunaan pestisida, masalah gizi, masalah pemukiman, pelayanan kesehatan, ketersediaan obat, populasi udara, abrasi pantai, penggundulan hutan dan banyak lagi permasalahan yang dapat menimbulkan satu model penyakit.
Jumlah penduduk yang sangat besar 19.000 juta harus benar-benar ditangani. Masalah pemukiman sangat penting diperhatikan. Pada saat ini pembangunan di sektor perumahan sangat berkembang, karena kebutuhan yang utama bagi masyarakat. Perumahan juga harus memenuhi syarat bagi kesehatan baik ditinjau dari segi bangungan, drainase, pengadaan air bersih, pengolalaan sampah domestik uang dapat menimbulkan penyakit infeksi dan ventilasi untuk pembangunan asap dapur.
Perilaku pola makanan juga mengubah pola penyakit yang timbul dimasyarakat. Gizi masyarakat yang sering menjadi topik pembicaraan kita kekurangan karbohidrat, kekurangan protein, kekurangan vitamin A dan kekurangan Iodium. Di Indonesia sebagian besar penyakit yang didapat berhubungan dengan kekurangan gizi.
Dimusim penghujan ini sangat rawan tingkat kekebalan manusia oleh karena itu kita harus jaga kondisi kesehatan kita agar tidak terserang penyakit. penyakit seperti batu, pilek, diare/disentri, muntaber bahkan demam berdarah (DBD) sering kita jumpai di saat musim penghujan ini. tercatat sekitar awal tahun 2008-2009 banyak warga cikarang yang terserang demam berdarah (DBD) sekitar 11 orang tewas dengan penyakit tersebut, bahkan yang sering terjadi adalah wabah diare, itu karena kita kurang memperhatikan kondisi kekebalan tubuh kita.
kondisi yang lemahlah yang membuat kita terserang penyakit atau lingkungan yang tidak nyaman menyebabkan virus dan bakteri negative dapat berkembang di daerah yang lingkungannya tidak bersih. daerah daerah yang kurang bersih atau tidak sehat sangat berpotensi berkembangnya bibit penyakit, di cikarang masih banyak daerah daerah yang kurang bersih atau terawat, seperti di daerah pinggiran kali malang banyak orang yang membuang sampah di bantaran sungai kali malang tersebut, karena dapat menghambat aliran sungai yang masuk dan berpotensial menyebabkan banjir dan menjadi sarang nyamuk serta wabah disentri.
selain itu di desa sukaresmi banyak sampah sampah yang tidak di benahi, itu menyebabkan timbulnya bibit bibit penyakit baru, perlu kita perhatikan kesehatan dan kebersihan tempat tinggal kita agar tidak terserang penyakit tersebut apalagi di musim penghujan ini Pengaruh air terhadap kesehatan dapat menyebabkan penyakit menular dan tidak menular.
Perkembangan epidemiologi menggambarkan secara spesifik peran lingkungan dalam terjadinya penyakit dan wabah. Lingkungan berpengaruh pada terjadinya penyakit penyakit umpama penyakit malaria karena udara jelek dan tinggal disekitar rawa-rawa. Orang beranggapan bahwa penyakit malaria terjadi karena tinggal pada rawa-rawa padahal nyamuk yang bersarang di rawa menyebabkan penyakit malaria. Dipandang dari segi lingkungan kesehatan, penyakit terjadi karena interaksi antara manusia dan lingkungan.
Pertumbuhan Penduduk dan Kelaparan
Pertumbuhan penduduk adalah perubahan populasi sewaktu-waktu, dan
dapat dihitung sebagai perubahan dalam jumlah individu dalam sebuah populasi
menggunakan “per waktu unit” untuk pengukuran. Sebutan pertumbuhan penduduk
merujuk pada semua spesies, tapi selalu mengarah pada manusia, dan sering
digunakan secara informal untuk sebutan demografi nilai
pertumbuhan penduduk, dan digunakan untuk merujuk pada pertumbuhan Penduduk dunia.
Pertumbuhan penduduk yang pesat dapat menyebabkan dampak
negatif, yaitu salah satunya kemiskinan. Kemiskinan yaitu keadaan di mana
terjadi ketidakmampuan untuk memenuhi kebutuhan dasar seperti makanan, pakaian,
tempat berlindung, pendidikan, dan kesehatan. Kemiskinan dapat disebabkan oleh
kelangkaan alat pemenuh kebutuhan dasar, ataupun sulitnya akses terhadap
pendidikan dan pekerjaan.
Kemiskinan merupakan masalah global. Sebagian orang memahami istilah ini secara subyektif dan komparatif, sementara yang lainnya melihatnya dari segi moral dan evaluatif, dan yang lainnya lagi memahaminya dari sudut ilmiah yang telah mapan, dll.
Kemiskinan merupakan masalah global. Sebagian orang memahami istilah ini secara subyektif dan komparatif, sementara yang lainnya melihatnya dari segi moral dan evaluatif, dan yang lainnya lagi memahaminya dari sudut ilmiah yang telah mapan, dll.
Kemiskinan memberikan dampak negatif salah satunya yaitu
kelaparan yang terjadi di masyarakat, biasanya terjadi pada masyarakat dengan
kondisi ekonomi kurang mampu.
Kelaparan adalah suatu kondisi di mana tubuh masih membutuhkan makanan, biasanya saat perut telah kosong baik dengan sengaja maupun tidak sengaja untuk waktu yang cukup lama.
Penyebab kelaparan, mulai dari kemiskinan, kekeringan, gagal panen, SDM yang kurang, pertambahan penduduk yang tidak terkendali, dan konflik sosial-politik. Kelaparan identik dengan kemiskinan. Kedua hal tersebut seakan menjadi pasangan serasi dalam dinamika kehidupan di negara yang sedang berkembang.
Jika tidak segera diatasi, kemiskinan dapat menyebabkan munculnya permasalahan seperti kelaparan, kriminalitas, dan gangguan sosial lainnya.
Kelaparan adalah suatu kondisi di mana tubuh masih membutuhkan makanan, biasanya saat perut telah kosong baik dengan sengaja maupun tidak sengaja untuk waktu yang cukup lama.
Penyebab kelaparan, mulai dari kemiskinan, kekeringan, gagal panen, SDM yang kurang, pertambahan penduduk yang tidak terkendali, dan konflik sosial-politik. Kelaparan identik dengan kemiskinan. Kedua hal tersebut seakan menjadi pasangan serasi dalam dinamika kehidupan di negara yang sedang berkembang.
Jika tidak segera diatasi, kemiskinan dapat menyebabkan munculnya permasalahan seperti kelaparan, kriminalitas, dan gangguan sosial lainnya.
Kelaparan di dunia biasanya terjadi di negara-negara
berkembang ataupun miskin. Menurut data yang dimiliki oleh PBB pada tahun 2015,
angka kelaparan di dunia menurun dibawah 800 juta jiwa atau satu dari sembilan
orang di dunia mengalami kelaparan. Angka ini sebetulnya mengalami penurunan
ini terjadi untuk pertama kalinya sejak PBB mengumpulkan data tersebut pada 25
tahun yang lalu.
Organisasi PBB yang membidangi masalah pangan dan pertanian atau FAO mencatat 795 juta orang yang menderita karena kelaparan, lebih sedikit 216 juta orang dibandingkan periode tahun 1990-1992. Sebagian besar dari negara-negara yang diamati (72 dari 129 negara) juga memenuhi sasaran PBB dengan mengurangi setengah jumlah kekurangan gizi pada tahun 2015. Negara-negara di Asia Timur, Amerika Latin, dan Karibia yang paling banyak mencatat kemajuan dalam mengurangi kelaparan. Sementara Sub-Sahara Afrika tetap menjadi wilayah dengan tingkat kelaparan tertinggi di dunia.
Organisasi PBB yang membidangi masalah pangan dan pertanian atau FAO mencatat 795 juta orang yang menderita karena kelaparan, lebih sedikit 216 juta orang dibandingkan periode tahun 1990-1992. Sebagian besar dari negara-negara yang diamati (72 dari 129 negara) juga memenuhi sasaran PBB dengan mengurangi setengah jumlah kekurangan gizi pada tahun 2015. Negara-negara di Asia Timur, Amerika Latin, dan Karibia yang paling banyak mencatat kemajuan dalam mengurangi kelaparan. Sementara Sub-Sahara Afrika tetap menjadi wilayah dengan tingkat kelaparan tertinggi di dunia.
Angka kelaparan di Indonesia menurut data yang dirilis FAO
yaitu berkisar 19,4 juta jiwa. Jumlah tersebut mencapai sepertiga dari jumlah
penduduk di Asia Tenggara yang mengalami kelaparan. Angka yang besar ini
sesungguhnya telah menurun setengannya bila dibandingka dengan awal tahun
90-an. Persentase penduduk Indonesia yang kelaparan, turun dari 19,7 persen di
tahun 1990-1992, menjadi hanya 7,9 persen di tahun 2014-2016.
Pertumbuhan ekonomi yang pesat membantu Indonesia menurunkan angka kelaparan. Daerah yang mengalami kelaparan di Indonesia terjadi khusunya di Indonesia bagian timur, seperti Papua, NTT, dan Maluku.
Pertumbuhan ekonomi yang pesat membantu Indonesia menurunkan angka kelaparan. Daerah yang mengalami kelaparan di Indonesia terjadi khusunya di Indonesia bagian timur, seperti Papua, NTT, dan Maluku.
Penanggulangan dampak kelaparan membutuhkan program jangka
panjang dan jangka pendek. Salah satu program jangka pendek ialah dengan
memberikan bantuan berupa makanan serta mengirimkan tim medis untuk menangani
korban-korban kelaparan utamanya balita, mengadakan panti rehabilitasi juga
dinilai perlu untuk mengobati kejiwaan karena tekanan mental bagi para korban.
Program jangka panjang yang dapat dilakukan adalah salah satunya yaitu dengan meningkatkan tingkat pendidikan penduduk dengan cara mempermudah akses dalam mendapatkan pendidikan, meningkatkan produktivitas pertanian dengan cara memberi pelatihan bagi para petani tentang cara bercocok tanam yang baik dan benar serta memperbaiki produksi dan distribusi pangan ke masyarakat.
Program jangka panjang yang dapat dilakukan adalah salah satunya yaitu dengan meningkatkan tingkat pendidikan penduduk dengan cara mempermudah akses dalam mendapatkan pendidikan, meningkatkan produktivitas pertanian dengan cara memberi pelatihan bagi para petani tentang cara bercocok tanam yang baik dan benar serta memperbaiki produksi dan distribusi pangan ke masyarakat.
Konsep Kemiskinan
Kemiskinan adalah keadaan dimana terjadi ketidakmampuan
untuk memenuhi kebutuhan dasar seperti makanan , pakaian , tempat berlindung,
pendidikan, dan kesehatan. (Wikipedia Bahasa Indonesia,Ensiklopedia bebas).
Kemiskinan dapat disebabkan oleh kelangkaan alat pemenuh kebutuhan dasar,
ataupun sulitnya akses terhadap pendidikan dan pekerjaan. Kemiskinan merupakan
masalah global.
Sebagian orang memahami istilah ini secara subyektif dan komparatif, sementara yang lainnya melihatnya dari segi moral dan evaluatif, dan yang lainnya lagi memahaminya dari sudut ilmiah yang telah mapan.
Kemiskinan dipahami dalam berbagai pandangan. Pemahaman utamanya mencakup:
Sebagian orang memahami istilah ini secara subyektif dan komparatif, sementara yang lainnya melihatnya dari segi moral dan evaluatif, dan yang lainnya lagi memahaminya dari sudut ilmiah yang telah mapan.
Kemiskinan dipahami dalam berbagai pandangan. Pemahaman utamanya mencakup:
-Gambaran kekurangan materi, yang biasanya mencakup kebutuhan
pangan sehari-hari, sandang, perumahan, dan pelayanan kesehatan. Kemiskinan
dalam arti ini dipahami sebagai situasi kelangkaan barang-barang dan pelayanan
dasar.
-Gambaran tentang kebutuhan sosial, termasuk keterkucilan sosial, ketergantungan, dan ketidakmampuan untuk berpartisipasi dalam masyarakat. Hal ini termasuk pendidikan dan informasi. Keterkucilan sosial biasanya dibedakan dari kemiskinan, karena hal ini mencakup masalah-masalah politik dan moral, dan tidak dibatasi pada bidang ekonomi.
-Gambaran tentang kurangnya penghasilan dan kekayaan yang memadai. Makna “memadai” di sini sangat berbeda-beda melintasi bagian-bagian politik dan ekonomi di seluruh dunia.
Berdasarkan hasil World Summit For Social development 1995, yang dikutip oleh Sadji Partoadmojo ditegaskan bahwa kemiskinan dapat berwujud:
– Rendahnya tingkat pendapatan dan sumber daya produktif
dalam kehidupan berkesinambungan
– Kelaparan dan kekurangan gizi
– Rendahnya derajat kesehatan
– Keterbatasan dan kurangnya akses kepada pendidikan dan
layanan pokok lainnya
– Kondisi tak wajar dan kematian akibat penyakit yang terus
meningkat
– Kehidupan bergelandangan dan tempat tinggal yang tidak
memadai
– Lingkungan yang tidak aman
– Diskriminasi dan keterasingan social
– Rendahnya tingkat partisipasi dalam proses pembuatan
keputusan dan dalam kehidupan sipil,social dan budaya (Sadji , hal 2-4 2004).
Diskusi Tentang Kemiskinan
Kemiskinan dipelajari oleh banyak ilmu, seperti Ilmu Sosial,
Ekonomi, dan Budaya.
Dalam Ekonomi, dua jenis kemiskinan dipertimbangkan:
kemiskinan absolut dan relatif.
Dalam Politik, perlawanan terhadap kemiskinan biasanya
dianggap sebagai tujuan sosial dan banyak pemerintahan telah berupaya
mendirikan institusi atau departemen. Pekerjaan yang dilakukan oleh badan-badan
ini kebanyakan terbatas hanya dalam sensus dan pengidentifikasian tingkat
pendapatan di bawah di mana warga negara dianggap miskin.
Penanggulangan aktif termasuk rencana perumahan, pensiun sosial, kesempatan kerja khusus, dan lain-lain. Beberapa ideologi seperti Marxisme menyatakan bahwa para ekonomis dan politisi bekerja aktif untuk menciptakan kemiskinan. Teori lainnya menganggap kemiskinan sebagai tanda sistem ekonomi yang gagal dan salah satu penyebab utama kejahatan.
Penanggulangan aktif termasuk rencana perumahan, pensiun sosial, kesempatan kerja khusus, dan lain-lain. Beberapa ideologi seperti Marxisme menyatakan bahwa para ekonomis dan politisi bekerja aktif untuk menciptakan kemiskinan. Teori lainnya menganggap kemiskinan sebagai tanda sistem ekonomi yang gagal dan salah satu penyebab utama kejahatan.
Dalam Hukum, telah ada gerakan yang mencari pendirian “hak
manusia” universal yang bertujuan untuk menghilangkan kemiskinan.
Dalam Pendidikan, kemiskinan mempengaruhi kemampuan murid
untuk belajar secara efektif dalam sebuah lingkungan belajar. Terutama murid
yang lebih kecil yang berasal dari keluarga miskin, kebutuhan dasar mereka
seperti yang dijelaskan oleh Abraham Maslow dalam hirarki kebutuhan Maslow;
kebutuhan akan keamanan dan rumah yang stabil, pakaian, dan jadwal makan yang
teratur membayangi kemampuan murid-murid ini untuk belajar.
Lebih jauh lagi, dalam lingkungan pendidikan ada istilah untuk menggambarkan fenomen “yang kaya akan tambah kaya dan yang miskin bertambah miskin” (karena berhubungan dengan pendidikan, tetapi beralih ke kemiskinan pada umumnya) yaitu efek Matthew.
Lebih jauh lagi, dalam lingkungan pendidikan ada istilah untuk menggambarkan fenomen “yang kaya akan tambah kaya dan yang miskin bertambah miskin” (karena berhubungan dengan pendidikan, tetapi beralih ke kemiskinan pada umumnya) yaitu efek Matthew.
Faktor- Faktor
Penyebab kemiskinan
Kemiskinan disebabkan oleh banyak faktor. Jarang ditemukan
kemiskinan hanya disebabkan oleh faktor tunggal. Seseorang atau keluarga miskin
bisa desebabkan oleh beberapa faktor yang saling terkait satu sama lain,
seperti mengalami kecacatan, memiliki pendidikan rendah, tidak memiliki modal,
atau keterampilan berusaha, tidak tersedianya jaminan sosial (pensiun,
kesehatan, kematian) atau hidup dilokasi terpencil dengan sumber daya alam dan
infrastruktur yang terbatas.
Kemiskinan banyak dihubungkan dengan beberapa hal,diantaranya:
Kemiskinan banyak dihubungkan dengan beberapa hal,diantaranya:
-Penyebab Individual, atau patologis, yang melihat kemiskinan
sebagai akibat dari perilaku, pilihan, atau kemampuan dari si miskin;
-Penyebab Keluarga, yang menghubungkan kemiskinan dengan
pendidikan keluarga;
-Penyebab Sub-Budaya (subcultural), yang menghubungkan
kemiskinan dengan kehidupan sehari-hari, dipelajari atau dijalankan dalam
lingkungan sekitar;
-Penyebab Agensi, yang melihat kemiskinan sebagai akibat dari
aksi orang lain, termasuk perang, pemerintah, dan ekonomi;
-Penyebab Struktural, yang memberikan alasan bahwa kemiskinan
merupakan hasil dari struktur sosial.
Dengan menggunakan perspektif yang lebih luas lagi, David Cox (2004: 1-6) membagi kemiskinan kedalam beberapa dimensi (lihat Suharto, 2008b) :
Kemiskinan yang diakibatkan globalisasi. Globalisasi
melahirkan negara pemenang dan negara kalah. Pemenang umumnya adalah negara
maju. Sedangkan negara-negara berkembang seringkali terpinggirkan oleh
persaingan dan pasar bebas yang merupakan prasyarat globalisasi.
Kemiskinan yang berkaitan dengan pembangunan. Kemiskinan
subsistem (kemiskinan akibat rendahnya pembangunan), kemiskinan pedesaan
(kemiskinan akibat peminggiran pedesaan dalam proses pembangunan), kemiskinan
perkotaan (kemiskinan yang disebabkan oleh hakekat dan kecepatan pertumbuhan
perkotaan).
Kemiskinan sosial. Kemiskinan yang dialami oleh perempuan,
anak-anak, dan kelompok minoritas akibat kondisi sosial yang tidak
menguntungkan mereka, seperti bias jender, diskriminasi atau eksploitasi ekonomi.
Kemiskinan konsekuensial. Kemiskinan yang terjadi akibat
kejadian-kejadian lain atau faktor-faktor eksternal di luar si miskin, seperti
konflik, bencana alam, kerusakan lingkungan, dan tingginya jumlah penduduk.
Faktor-faktor penyebab terjadinya kemiskinan dapat
dikategorikan dalam dua hal sebagai berikut:
Faktor Internal
Faktor- faktor internal ( dari dalam diri individu atau
keluarga ) yang menyebabkan terjadinya kemiskinan antara lain berupa
kekurangmampuan dalam hal:
-Fisik (misalnya cacat, kurang gizi, sakit-sakitan)
-Intelektual (misalnya kurangnya pengetahuan, kebodohan,
kekurangtahuan informasi)
-Mental emosinal ( misalnya malas, mudah menyerah, putus asa
dan temperamental)
-Spiritual (misalnya jujur, penipu, serakah dan tidak
disiplin)
-Sosial psikologis (misalnya kurang motivasi, kurang percaya
diri, depresi/stress, kurang relasi, kurang mapu mencari dukungan)
-Keterampilan (misalnya tidak mempunyai keahlian yang sesuai
dengan permintaan lapangan kerja)
-Asset ( misalnya tidak memiliki stok kekayaan dalam bentuk
tanah, rumah, tabungan, kendaraan dan modal kerja).
Faktor Eksternal
Faktor –faktor eksternal (berada diluar individu atau
keluarga) yang menyebabkan terjadinya kemiskinan, antara lain :
-Terbatasnya pelayanan sosial dasar
-Tidak dilindunginya hak atas kepemilikan tanah
-Terbatasnya lapangan pekerjaan formal dan kurang
terlindunginya usaha-usaha sektor informal
-Kebijakan perbankan terhadap layanan kredit mikro dan
tingkat bunga yang tidak mendukung sektor usaha mikro
-Belum terciptanya sistem ekonomi kerakyatan dengan prioritas
sektor riil masyarakat banyak
-Sistem mobilitasi dan pendayagunaan dana sosial masyarakat
yang optimal (seperti zakat)
-Dampak sosial negatif dari program penyesuaian structural (
structural adjustment program/SAP)
-Budaya yang kurang mendukung kemajuan dan kesejahteraan
-Kondisi geografis yang sulit, tandus, terpencil, atau daerah
bencana
-Pembangunan yang lebih berorientasi fisik material
-Pembangunan ekonomi antar daerah yang belum merata
-Kebijakan publik yang belum berpihak kepada penduduk miskin
Faktor Penyebab
Kemiskinan di Indonesia
Pada umumnya di negara Indonesia penyebab-penyebab
kemiskinan adalah sebagai berikut:
-Laju Pertumbuhan Penduduk
Pertumbuhan penduduk Indonesia terus meningkat di setiap 10
tahun menurut hasil sensus penduduk. Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS)
di tahun 1990 Indonesia memiliki 179 juta lebih penduduk. Kemudian di sensus
penduduk tahun 2000 penduduk meningkat sebesar 27 juta penduduk atau menjadi
206 juta jiwa. dapat diringkaskan pertambahan penduduk Indonesia persatuan
waktu adalah sebesar setiap tahun bertambah 2,04 juta orang pertahun atau, 170
ribu orang perbulan atau 5.577 orang perhari atau 232 orang perjam atau 4 orang
permenit. Banyaknya jumlah penduduk ini membawa Indonesia menjadi negara ke-4
terbanyak penduduknya setelah China, India dan Amerika.
Meningkatnya jumlah penduduk membuat Indonesia semakin
terpuruk dengan keadaan ekonomi yang belum mapan. Jumlah penduduk yang bekerja
tidak sebanding dengan jumlah beban ketergantungan. Penghasilan yang minim
ditambah dengan banyaknya beban ketergantungan yang harus ditanggung membuat
penduduk hidup di bawah garis kemiskinan.
-Angkatan Kerja, Penduduk yang Bekerja dan Pengangguran
Secara garis besar penduduk suatu negara dibagi menjadi dua
yaitu tenaga kerja dan bukan tenaga kerja. Yang tergolong sebagi tenaga kerja
ialah penduduk yang berumur didalam batas usia kerja. Batasan usia kerja
berbeda-beda disetiap negara yang satu dengan yang lain. Batas usia kerja yang
dianut oleh Indonesia ialah minimum 10 tahun tanpa batas umur maksimum.
Jadi setiap orang atau semua penduduk berumur 10 tahun tergolong sebagai tenaga kerja. Sisanya merupakan bukan tenaga kerja yang selanjutnya dapat dimasukan dalam katergori beban ketergantungan.
Tenaga kerja (manpower) dipilih pula kedalam dua kelompok yaitu angkatan kerja (labor force) dan bukan angkatan kerja. Yang termasuk angkatan kerja ialah tenaga kerja atau penduduk dalam usia kerja yang bekerja atau mempunyai pekerjaan namun untuk sementara tidak bekerja, dan yang mencari pekerjaan.
Seangkan yang termasuk sebagai bukan angkatan kerja adalah tenaga kerja dalam usia kerja yang tidak sedang bekerja, tidak mempunyai pekerjaan dan tidak sedang mencari pekerjaan, yakni orang-orang yang kegiatannya bersekolah, mengurus rumah tangga, serta orang yang menerima pendapatan tapi bukan merupakan imbalan langsung atas jasa kerjanya.
Selanjutnya angkatan kerja dibedakan pula menjadi dua subkelompok yaitu pekerja dan penganggur. Yang dimaksud dengan pekerja adalah orang-orang yang mempunyai pekerjaan, mencakup orang-orang yang mempunyai pekerjaan dan memang sedang bekerja maupun orang yang memilki pekerjaan namun sedang tidak bekerja.
Adapun yang dimaksud dengan pengangguran adalah orang yang ridak mempunyai pekerjaan, lengkapnya orang yang tidak bekerja dan mencari pekerjaan. Pengangguran semacam ini oleh BPS dikatergorikan sebgai pengangguran terbuka. (Dumairy, 1996)
Jadi setiap orang atau semua penduduk berumur 10 tahun tergolong sebagai tenaga kerja. Sisanya merupakan bukan tenaga kerja yang selanjutnya dapat dimasukan dalam katergori beban ketergantungan.
Tenaga kerja (manpower) dipilih pula kedalam dua kelompok yaitu angkatan kerja (labor force) dan bukan angkatan kerja. Yang termasuk angkatan kerja ialah tenaga kerja atau penduduk dalam usia kerja yang bekerja atau mempunyai pekerjaan namun untuk sementara tidak bekerja, dan yang mencari pekerjaan.
Seangkan yang termasuk sebagai bukan angkatan kerja adalah tenaga kerja dalam usia kerja yang tidak sedang bekerja, tidak mempunyai pekerjaan dan tidak sedang mencari pekerjaan, yakni orang-orang yang kegiatannya bersekolah, mengurus rumah tangga, serta orang yang menerima pendapatan tapi bukan merupakan imbalan langsung atas jasa kerjanya.
Selanjutnya angkatan kerja dibedakan pula menjadi dua subkelompok yaitu pekerja dan penganggur. Yang dimaksud dengan pekerja adalah orang-orang yang mempunyai pekerjaan, mencakup orang-orang yang mempunyai pekerjaan dan memang sedang bekerja maupun orang yang memilki pekerjaan namun sedang tidak bekerja.
Adapun yang dimaksud dengan pengangguran adalah orang yang ridak mempunyai pekerjaan, lengkapnya orang yang tidak bekerja dan mencari pekerjaan. Pengangguran semacam ini oleh BPS dikatergorikan sebgai pengangguran terbuka. (Dumairy, 1996)
-Distribusi Pendapatan dan Pemerataan Pembangunan
Distribusi pendapatan nasional mencerminkan merata atau
timpangnya pembagian hasil pembangunan suatu negara di kalangan penduduknya.
Kriteria ketidakmerataan versi Bank Dunia didasarkan atas porsi pendapatan
nasional yang dinikmati oleh tiga lapisan penduduk, yakni 40% penduduk
berpendapatan rendah (penduduk miskin); 40% penduduk berpendapatan menengah;
serta 20% penduduk berpemdapatan tertinggi (penduduk terkaya).
Ketimpangan dan ketidakmerataan distribusi dinyatakan parah apabila 40% penduduk berpendapatan rendah menikmati kurang dari 12 persen pendapatan nasional. Ketidakmerataan dianggap sedang atau moderat bila 40% penduduk berpendapatan rendah menikmati 12 hingga 17 persen pendapatan nasional. Sedangkan jika 40% penduduk miskin menikmati lebih dari 17 persen pendapatan nasional maka ketimpangan atau kesenjangan dikatakan lunak, distribusi pendapatan nasional dikatakan cukup merata. (Dumairy, 1996).
Ketimpangan dan ketidakmerataan distribusi dinyatakan parah apabila 40% penduduk berpendapatan rendah menikmati kurang dari 12 persen pendapatan nasional. Ketidakmerataan dianggap sedang atau moderat bila 40% penduduk berpendapatan rendah menikmati 12 hingga 17 persen pendapatan nasional. Sedangkan jika 40% penduduk miskin menikmati lebih dari 17 persen pendapatan nasional maka ketimpangan atau kesenjangan dikatakan lunak, distribusi pendapatan nasional dikatakan cukup merata. (Dumairy, 1996).
Pendapatan penduduk yang didapatkan dari hasil pekerjaan
yang mereka lakukan relatif tidak dapat memenuhi kebutuhan sehari-hari
sedangkan ada sebagian penduduk di Indonesia mempunyai pendapatan yang
berlebih. Ini disebut juga sebagai ketimpangan. Ketimpangan pendapatan yang
ekstrem dapat menyebabkan inefisiensi ekonomi. Penyebabnya sebagian adalah pada
tingkat pendapatan rata rata bearapa pun, ketimpangan yang semakin tinggi
akan menyebabkan semakin kecilnya bagian populasi yang memenuhi syarat untuk
mendapatkan pinjaman atau sumber kredit.
Selain itu ketimpangan dapat menyebabkan alokasi aset yang tidak efisien. Ketimpangan yang tinggi menyebabkan penekanan yang terlalu tinggi pada pendidikan tinggi dengan mengorbankan kualitas universal pendidikan dasar, dan kemudian menyebabkan kesenjangan pendapatan yang semakin melebar. (Todaro, 2006).
Selain itu ketimpangan dapat menyebabkan alokasi aset yang tidak efisien. Ketimpangan yang tinggi menyebabkan penekanan yang terlalu tinggi pada pendidikan tinggi dengan mengorbankan kualitas universal pendidikan dasar, dan kemudian menyebabkan kesenjangan pendapatan yang semakin melebar. (Todaro, 2006).
Ketimpangan pembangunan di Indonesia selama ini berlangsung
dan berwujud dalam berbagai bentuk dan aspek atau dimensi. Bukan saja berupa
ketimpangan hasil-hasilnya, misalnya dalam hal pendapatan per kapita tetapi
juga ketimpangan kegiatan atau proses pembangunan itu sendiri. Bukan pula
semata-mata berupa ketimpangan spasial atau antar daerah tetapi ketimpangan
sektoral dan ketimpangan regional.
Ketimpangan sektoral dan regional dapat ditengarai antara
lain dengan menelaah perbedaan mencolok dalam aspek aspek seperti penyerapan
tenaga kerja, alokasi dana perbankan, investasi dan pertumbuhan.
Ketimpangan pertumbuhan antarsektor, khususnya antara sektor
pertanian dan sektor industry pengolahan harus disikapi secara arif.
Ketimpangan pertumbuhan sektoral ini bukanlah kecelakaan atau ekses
pembangunan. Ketimpangan ini lebih kepada suatu hal yang terencana dan memang
disengaja terkait dengan tujuan menjadikan Indonesia sebagai negara industry.
Akan tetapi sampai sejauh manakah ketimpangan ini dapat ditolerir? Pemerintah perlu memikirkan kembali perihal ketepatan keputusan menggunakan industrialisasi sebgai jalur pembangunan karena akan sangat berdampak bagi pendapatan penduduk dan selanjutnya kemiskinan. (Dumairy, 1996)
Akan tetapi sampai sejauh manakah ketimpangan ini dapat ditolerir? Pemerintah perlu memikirkan kembali perihal ketepatan keputusan menggunakan industrialisasi sebgai jalur pembangunan karena akan sangat berdampak bagi pendapatan penduduk dan selanjutnya kemiskinan. (Dumairy, 1996)
-Tingkat Pendidikan Yang Rendah
Rendahnya kualitas penduduk juga merupakan salah satu
penyebab kemiskinan di suatu negara. Ini disebabkan karena rendahnya tingkat
pendidikan dan tingkat pengetahuan tenaga kerja. Untuk adanya perkembangan
ekonomi terutama industry, jelas sekali dibuthkan lebih banyak teanga kerja yang
mempunyai skill atau paling tidak dapat membaca dan menulis. Menurut Schumaker
pendidikan merupakan sumber daya yang terbesar manfaatnya dibandingkan
faktor-faktor produksi lain. ( Irawan, 1999)
-Kurangnya Perhatian Dari Pemerintah
Pemerintah yang kurang peka terhadap laju pertumbuhan
masyarakat miskin dapat menjadi salah satu faktor kemiskinan. Pemerintah tidak
dapat memutuskan kebijakan yang mampu mengendalikan tingkat kemiskinan di
negaranya.